Review

Tuesday, April 24, 2018

[At a Glance] My Mister (2018)

Anyeonghaseyo~~

Setelah sekian lama “puasa” nulis soal drama Korea, akhirnya sekarang saya bisa nulis soal topik ini lagi. Jadi…sekarang ini saya lagi ngikutin drama berjudul “My Mister” atau “My Ahjussi.” Ketika nonton menit-menit awal dari episode pertama, saya pikir saya ga akan terlalu suka sama drama ini, yang kesannya suram dan lack of romance, yang mana bukan my cup of tea, secara saya kan sukanya drama yang menye-menye XD

Tapi…ternyata setelah selesai nonton episode pertama, saya mulai ketagihan dan  berakhir dengan melahap semua delapan episode dalam waktu dua hari saja!

Nah, di blogpost ini, saya pengen nulis sedikit ulasan mengenai kesan pertama soal drama ini. Kali aja ada yang lagi menimbang-nimbang apakah ingin menonton drama ini atau engga, semoga tulisan ini bisa membantu memutuskan :D


Judul: My Mister (Naui Ajusshi)
Sutradara: Kim Won Suk (previous works: Signal, Misaeng, Monstar, Sungkyunwan Scandal, etc)
Penulis Naskah: Park Hae Young (previous works: Oh Hae Young Again, etc)
Stasiun Penyayangan: tvN
Jumlah Episode: 16
Jadwal Tayang: Rabu & Kamis
Tanggal Rilis: 21 Maret, 2018
Link untuk nonton: My Mister
My Mister menceritakan kehidupan Park Dong Hoon (Lee Sun Kyun), seorang pegawai kantoran yang menjalani kehidupan dengan kehampaan. Sementara Lee Ji An (IU) adalah seorang gadis yang memiliki masa lalu gelap dan kehidupan yang keras. Secara tidak sadar keduanya mulai mengobati luka satu sama lain.
Trailer: My Mister 
First Impression

Sebelumnya saya pernah nulis ketidaksabaran saya untuk menonton drama ini disini, karena drama ini ditulis oleh penulis naskah yang salah satu dramanya sangat saya cintai. Karena ditulis oleh penulis naskah “Oh Hae YoungAgain,” saya pikir drama ini akan sedikit mirip-mirip “OHYA,” tapi ternyata saya salah teman-teman. Bagusnya sih sama dengan “OHYA,” tapi dari segi genre, drama ini beda banget sama “OHYA,” yang kental banget nuansa romance dan komedi-nya. Bukan berarti ga ada romance dan komedi ya, “My Mister” ini genre-nya lebih ke drama.

adegan di subway sepulang kantor, ga pernah ngebosenin, bikin saya sadar kalau everyone has their own problems

Di awal-awal nonton drama ini, yang ada di pikiran saya adalah “Ko kayanya suram banget ya nih drama.” Berawal dari pemikiran tersebut, saya memutuskan untuk berhenti nonton di menit 40-an. Saat itu saya mikir kalo mental saya lagi ga siap untuk nonton drama tipe ini (lagi galau sis :p), karena yang saya butuhkan saat itu adalah drama menye-menye yang menghibur hati. Tapi entah kenapa drama ini masih aja stay di pikiran saya. Karena terus kepikiran, akhirnya saya lanjut nonton. Dan saya nyesel karena sempet mikir ga akan lanjut nonton drama ini. *cue The Passengers – Let Her Go*

Menurut saya, “My Mister” ini kisahnya ga melulu suram. Banyak kehangatan-kehangatan sederhana dan terselubung yang dikisahkan dalam serial ini. Yang saya suka dari serial ini adalah adegan-adegan yang kesannya minor tapi menyimpan banyak pesan yang sangat relatable dengan kehidupan nyata.

Contohnya adegan saat nenek Lee Ji An makan masakan yang dibawakan oleh cucunya. Disini diperlihatkan kalau neneknya sangat menikmati masakan tersebut dan mengatakan kalau ia sangat bersyukur. Entah kenapa pas liat adegan ini yang ada di pikiran saya adalah: “Bahagia itu sederhana cuy,” dan sama seperti Lee Ji An, mata saya pun mulai berkaca-kaca pas liat neneknya senyum kegirangan abis makan.




Serial ini juga kesannya lebih real. Contohnya nih ya, karakter wanita utama disini, Lee Ji An, adalah gadis yang sangat miskin. Biasanya kan di serial lain biarpun miskin, pasti baju dari karakter utama wanitanya selalu ganti-ganti. Disini, baju yang dipakai Lee Ji An ya itu-itu aja. Coat-nya pun ga pernah berubah.

Satu lagi dari beberapa hal yang saya suka dari serial ini adalah pendalaman karakternya. Bukan cuma pemeran utama wanita dan pria saja yang kisahnya disuguhkan secara mendalam di serial ini, pemeran-pemeran lainnya, bahkan kisah dari pemeran antagonis-nya pun digambarkan dengan penuh arti. Saya aja yang sempet benci banget sama pemeran antagonisnya sempet merasa iba saat mengetahui kehidupannya secara lebih dalam.

Oh iya, satu lagi nih yang perlu digarisbawahi dari serial ini: IU keren banget. Menurut saya ini adalah penampilan terbaik IU. Disini IU tak banyak memiliki dialog, namun ia tetap berhasil menghidupkan karakternya. Keren pisan neng Jieun <3


Untuk menarik kesimpulan, bagi teman-teman yang lagi nyari drama yang real, relatable, dan sarat pesan moral, boleh langsung nonton “My Mister.” Kalau mood-nya lagi pengen nyari drama yang ringan, lovey dovey dan ceria, boleh di-skip aja nih serial, meskipun saya sangat merekomendasikan untuk nonton serial ini saat mood-nya baikan, karena keren banget serialnya. 

Thursday, April 12, 2018

Konsumen Cerdas di Era Digital: Apa, Kenapa & Bagaimana?

Selamat datang di era digital!

Jika kamu membaca tulisan ini, maka kamu termasuk ke dalam kategori warganet alias netizen. Namun, apakah kamu termasuk ke dalam kategori konsumen digital? Hhmm…coba ingat-ingat, apakah kamu pernah membeli barang atau menggunakan jasa secara daring alias online? Kalau jawabannya ya, berarti kamu termasuk ke dalam kategori konsumen digital.

Ada satu pertanyaan lagi nih: apakah kamu sudah termasuk ke dalam kategori KONsumen yang CERdas di era digital? Coba dipikirkan dengan seksama…

Sudah?

Bagaimana jawabannya? Ya? Tidak? 50:50?

Buat yang menjawab “Tidak” dan “50:50”, selamat karena kamu berada di tempat yang tepat! Di blogpost ini saya akan menjelaskan apa itu konsumen cerdas di era digital, beserta kenapa kita harus menjadi sosok tersebut dan bagaimana caranya menjadi konsumen cerdas di era serba digital ini.

Apa

foto credit: nepalbuzz.com

Sebelum membahas lebih jauh mengenai konsumen yang cerdas di era digital, ada baiknya kita memahami pengertian konsumen digital. Menurut ReachFirst, sebuah perusahaan startup yang fokus dalam bidang perancangan web dan pemasaran daring, konsumen digital adalah mereka yang menggunakan teknologi untuk membeli dan menjual produk dan jasa.
  
Di Indonesia sendiri, seperti yang dilansir oleh Kompas.com, menurut laporan terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung dengan jaringan internet sepanjang tahun 2017. Tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia memicu tingginya jumlah transaksi online. Menurut artikel yang diunggah oleh Okezone.com, transaksi e-commerce diprediksi mencapai US$130 miliar di tahun 2020.

Kenapa

Kenapa menjadi konsumen yang cerdas di era digital ini adalah hal yang penting? Karena dengan menjadi konsumen yang cerdas, kita akan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kasus penipuan jual beli secara daring mungkin sudah tidak asing terdengar di telinga kita. Bahkan, menurut hasil survey Kaspersky Lab di 26 negara, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan korban penipuan online terbesar di dunia! Seperti yang dilansir oleh Liputan6.com, 26 persen konsumen di Indonesia pernah menjadi korban penipuan online. L

Oleh karena itu, menjadi konsumen yang cerdas di era digital ini adalah sebuah keharusan.

Bagaimana

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa menjadi konsumen cerdas di era digital? Di bawah ini, saya sudah menuliskan beberapa tips-nya.

Jangan Tergiur Promo & Harga Murah

Terkadang keinginan untuk membeli suatu barang tiba-tiba timbul saat melihat harga yang murah dan sedang ada promosi potongan harga atau promosi beli 1 gratis 1, meskipun sebenarnya kita tidak membutuhkan barang tersebut. Disini lah status kita dipertanyakan, apakah kita konsumen yang cerdas atau bukan?

Konsumen yang cerdas di era digital tidak akan tergiur dengan promosi dan harga murah dan langsung memesan plus membeli barang tersebut. Konsumen yang cerdas, akan mencari tahu terlebih dahulu info mengenai barang tersebut dan toko yang menjualnya.

Pilih Penjual Yang Terpercaya!

Wajib hukumnya bagi semua konsumen digital untuk membeli barang atau jasa dari penjual yang terpercaya. Lantas bagaimana mengetahui apakah penjual tersebut terpercaya atau tidak? Melihat jumlah penjualan dan jumlah bintang tentunya. Kalau membeli barang lewat marketplace seperti Tokopedia atau Shopee, gunakan fitur “Filter” untuk memilih penjual dengan label “Star Seller” (di Shopee) atau “Gold Merchant” di Tokopedia.

fitur Star Seller/ Shopee Mall di Shopee
fitur Gold Merchant/Official Store di Tokopedia

Ketika sudah “menyaring” penjual dengan label-label di atas, kembali pilih toko dengan jumlah penjualan terbanyak. Setelah memilih toko yang sepertinya cocok di hati, jangan langsung klik beli dulu, coba cek review atau ulasan atau penilaian yang ada di produk yang akan kamu beli.

fitur "Terlaris" di Shopee untuk mencari Toko dengan Penjualan terbanyak

fitur "Penjualan" di Tokopedia untuk mencari Toko dengan Penjualan terbanyak

Kalau di Shopee, ada fitur “Penilaian Dengan Foto,” klik fitur tersebut untuk melihat seperti apa sih wujud asli barang yang akan kamu beli, karena kadang barang yang dipasang si penjual di foto suka berbeda dengan barang asli-nya. Untuk menghindari efek “ZONK,” ketika barang sampai di rumah, jangan lupa selalu mengecek fitur Ulasan atau Penilaian ya.

fitur "Penilaian Dengan Foto" di Shopee
fitur "Ulasan" di Tokopedia

Sebelum Membeli, Cari Ulasan Dari Sumber Terpercaya

Tidak cukup dengan hanya membaca ulasan atau penilaian yang tersedia di laman produk tersebut, untuk menjadi konsumen yang cerdas di era digital ini, perlu sekali untuk mencari ulasan dari sumber-sumber terpercaya sebelum membeli produk dengan harga yang cukup mahal.

Sumber-sumber terpercaya sendiri bermacam-macam, bisa berbentuk website, blog, channel YouTube atau perkataan teman/saudara.

Saya akan mengambil contoh produk Handphone atau Smartphone. Sebelum membeli smartphone, saya biasanya mencari ulasan mengenai spesifikasi, keunggulan dan kelemahan smartphone yang saya incar dari website-website terpercaya, seperti www.gsmarena.com. Tidak cukup dengan hanya membaca saja, saya juga biasanya menonton video review Sobat HAPE di YouTube, untuk mengetahui kualitas foto dan video dari smartphone yang akan dibeli.

contoh review di Channel YouTube Sobat HAPE

Baca Baik-Baik Metode Pembayaran

Banyak orang yang enggan membeli barang secara daring karena metode pembayaran yang mereka anggap sulit. Padahal, semua toko yang menjual barang dan jasa mereka secara daring selalu menuliskan tata cara pembayaran yang jelas, asal konsumen mau membacanya dengan seksama.

Nah, untuk menjadi konsumen cerdas di era digital, biasakan untuk selalu membaca baik-baik metode pembayaran yang disediakan toko/penjual. Biasanya, penjual menyediakan beragam metode pembayaran, mulai dari pembayaran melalui transfer lewat ATM, transfer lewat Mbanking, transfer lewat gerai Indomaret/Alfamart, pembayaran via kartu kredit (cicilan/tunai), atau pembayaran secara langsung lewat Cash On Delivery (COD).

Jika dilihat dari pilihan-pilihan di atas, sebenarnya metode yang paling aman adalah Cash On Delivery (COD), karena konsumen akan membayar ketika barang sudah ada di tangan mereka. Tapi, bukan berarti metode-metode yang lain tidak aman ya. Asalkan toko/penjual terpercaya dan tata cara pembayaran tertulis dengan jelas, maka konsumen tidak perlu khawatir.

Jaga  Data Pribadi Kamu

Konsumen yang cerdas di era digital adalah konsumen yang menjaga dengan baik data pribadi-nya dan tidak membagikannya ke sembarang orang, termasuk penjual.

Kepintaran otak manusia seringkali disalahgunakan untuk melakukan penipuan-penipuan, termasuk penipuan jual beli secara daring. Zaman sekarang, banyak oknum-oknum penipu yang menyamar menjadi pemilik toko daring atau penjual di e-commerce yang melakukan beragam trik untuk menipu konsumen. Salah satu trik yang sering digunakan oknum-oknum tersebut adalah meminta kode verifikasi. Untuk hal ini, jangan pernah memberitahukan kode verifikasi, OTP (One Time Password), atau authentication code ke siapapun, apalagi orang yang tidak dikenal, karena kode tersebut sifatnya rahasia dan bisa disalahgunakan serta merugikan pihak konsumen.

Data pribadi juga termasuk kartu identitas penduduk atau KTP. Penipu seringkali menawarkan suatu produk dengan harga murah dan pembayaran memakai cicilan asalkan konsumen mau memberikan KTP-nya. Nah, kalau bertemu dengan penjual seperti ini, langsung ucapkan selamat tinggal saja ya, karena KTP tersebut nanti bisa disalahgunakan oleh si penjual.

Pahami Hak & Kewajiban Sebagai Konsumen

Untuk menjadi konsumen yang cerdas di era digital, kita harus memahami dengan betul apa hak dan kewajiban kita sebagai konsumen. Dengan memahami apa yang menjadi hak dan kewajiban kita, jika nantinya terjadi hal yang tidak sesuai dengan keinginan, kita dapat mengetahui apakah itu kesalahan kita sebagai konsumen atau kelalaian si penjual.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai hak dan kewajiban konsumen, sila kunjungi situs berikut ini ya: http://harkonas.id/koncer.php . Di situs tersebut dijelaskan secara lengkap apa hak dan kewajiban konsumen beserta cara-cara lainnya untuk menjadi si KONCER atau KONsumen CERdas.


Cukup segini dulu dari saya mengenai konsumen cerdas di era digital. Semoga infonya bermanfaat. Mari kita ramaikan era digital ini dengan menjadi konsumen yang cerdas!

Sampai jumpa~~

p.s. tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog yang memperingati Hari Konsumen Nasional (Harkonas) 2018.

Saturday, March 3, 2018

[K-Movie Review] V.I.P (2017)


Saat membaca artikel mengenai penggarapan film ini dan pemain-pemain yang ada di dalamnya, yang membuat saya paling excited adalah fakta kalau Lee Jong Suk akan memerankan tokoh psikopat yang merupakan anak dari pejabat Korea Utara. Bagi saya, Lee Jong Suk adalah pilihan yang tepat untuk karakter tersebut. There’s something villainous about his face.

Karena selama ini saya hanya menonton Lee Jong Suk sebagai sosok cowok baik-baik yang selalu membela kebenaran, maka karakter ini adalah karakter yang benar-benar berbeda dan sangat menarik. Tidak ada keraguan dari dalam diri saya mengenai apakah ia akan menaklukan peran ini atau tidak, karena saya yakin dengan wajah yang mendukung – wajah yang sadis terselubung ya maksudnya, bukan wajah yang cakep – dan kemampuan acting yang cukup mumpuni, ia pasti bisa memainkan peran di “V.I.P” dengan baik. Dan nyatanya, dugaan saya benar – setidaknya dari perspektif saya.

“V.I.P” menceritakan kisah mengenai seorang psikopat bernama Kim Gwang Il (Lee Jong Suk) yang merupakan anak dari pejabat berkedudukan tinggi di Korea Utara. Detektif kepolisian Korea, Chae I Do (Kim Myung Min) berusaha untuk menangkap Kim Gwang Il yang telah melakukan pembunuhan serial di beberapa Negara, sementara agen Badan Intelijen Korea Park Jae Hyuk (Jang Dong Gun) justru harus menyelamatkan Kim Gwang Il karena perjanjian yang dibuatnya dengan Interpol Amerika. Sementara mantan polisi Korea Utara, Lee Dae Beom (Park Hee Soon) memiliki agenda sendiri.

Too gruesome. Adegan-adegan pembunuhan yang ditayangkan di film ini sungguh eksplisit dan sangat menjijikan plus menyedihkan. Bagi kalian yang benci adegan-adegan pembunuhan eksplisit dan sadis, lebih baik skip aja film ini. Ada beberapa adegan yang saya tak sanggup liatnya. Padahal, saya termasuk orang yang biasa-biasa saja saat menonton film “Killers” dan “The Raid.” Entah kenapa adegan pembunuhan di film ini kesannya lebih sadis dan gamblang. Yang ada dalam pikiran saya adalah: “Gimana syutingnya ya? Ko bisa kaya real  gitu.”

Anw, disamping adegan-adegan pembunuhan sadis, “V.I.P” menyuguhkan cerita yang menarik. Di sepanjang film, saya penasaran mengenai bagaimana nasib Kim Gwang Il nantinya, apakah ia akan bebas dari perbuatan-perbuatan bejat yang dilakukannya atau ia tak akan bisa lagi memanfaatkan “privilege”-nya sebagai anak pejabat.

Meskipun Lee Jong Suk dikelilingi dengan beberapa aktor terkenal yang kemampuannya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, bagi saya ia justru menjadi sosok yang paling bersinar di film ini.  I will never see him the same way again after this movie. Lee Jong Suk membuktikan kalau dia ga cuman modal tampang dan badan doang. Saya sih berharapnya dia akan memainkan lebih banyak karakter-karakter seperti ini di masa mendatang. Karena menurut saya, karakter seperti ini dapat lebih menunjukkan kemampuan acting-nya, dibanding karakter-karakter dia di serial-serial drama populer.

Lee Jong Suk as Kim Gwang Il
Walau Lee Jong Suk berhasil membuat saya kagum dengan permainan wataknya, peran favorit saya dalam film ini adalah Chae I Do, yang dimainkan oleh aktor Kim Myung Min. Keren banget coy doi mainnya. Perannya di film ini benar-benar membuat saya, sebagai penonton, mendukungnya sepenuh hati. Hail Chae I Do! Thank you for being the greatest police detective

Chae I Do and his team members

To sum up, film ini cocok banget untuk kalian yang suka menonton film-film gory/thriller. Untuk yang tidak kuat liat darah dan bacok sana-sini, mending di-skip aja daripada ga nafsu makan dan mimpi buruk.

Untuk yang tertarik nonton film ini, sila klik link berikut -> V.I.P.

Friday, February 23, 2018

[K-Movie Review] Han Gong Ju (2013)



“The world ain't all sunshine and rainbows.”

Pernah dengan kutipan di atas? Menurut saya, kutipan di atas adalah kutipan yang tepat untuk menggambarkan kisah yang disuguhkan dalam film Han Gong Ju. Film ini menegaskan kalau Korea Selatan tidak melulu menjadi Negara yang sempurna dan Negara yang selalu menawarkan mimpi indah, Negara ini juga menjadi saksi beberapa peristiwa menyesakkan.


Film Han Gong Ju adalah bukti dari kelamnya dunia pendidikan dan sistem peradilan di Korea. Menonton film ini membuat saya sadar kalau tidak semua murid sekolah bisa merasakan indahnya masa-masa tersebut.

“Han Gong Ju” terinspirasi dari kasus pemerkosaan berkelompok Miryang yang terjadi tahun 2004 silam. Film ini menceritakan kisah sesosok murid perempuan bernama Han Gong Ju (Chun Wo Hee) yang harus berjuang melawan kisah kelam masa lalunya saat pindah ke sekolah yang baru.

Dari menit pertama film ini saya sudah bisa merasakan kesepian dan kesedihan yang dialami Han Gong Ju. Biarpun film ini tak memiliki banyak dialog, namun ekspresi Chun Wo Hee dan pengambilan gambar berhasil mendeskripsikan apa yang dirasakan oleh Han Gong Ju dan betapa tidak adilnya sistem yang ada.


Film ini membuat saya sadar kalau kehidupan pendidikan di Korea tak selalu indah. Sama saja seperti kehidupan sekolah di Negara-negara lain, Korea pun tak lepas dari kasus bullying. Film ini seolah-olah ingin menegur sistem peradilan yang bobrok dan hanya berpihak kepada dia yang berada dan dia yang memiliki jabatan tinggi.

“Han Gong Ju” berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk penghargaan untuk Aktris Terbaik dan Sutradara Baru Terbaik dalam gelaran 2014 (35th) Blue Dragon Film Awards. Film ini juga ditayangkan di beberapa festival film.

Bagi kalian yang tertarik menonton film ini, boleh klik disini ya -> Han Gong Ju.

Wednesday, February 21, 2018

Thoughts on Cheese in the Trap Movie Trailer

Disclaimer: posting-an ini adalah tulisan yang sangat memihak, jadi sebelumnya saya minta maaf kalau ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan pandangan saya di bawah ini #tssah.

Trailer film “Cheese in the Trap” akhirnya dirilis juga. Sebelum membicarakan lebih lanjut mengenai film yang diadaptasi dari webtoon populer dengan judul yang sama ini, ada baiknya kita melihat trailer-nya. Yuk. Mari.


Bagi saya, film ini adalah versi tua-nya, alias older version-nya serial drama “Cheese in the Trap.” Pemain-pemainnya udah tua coy. Entah kenapa, feel-nya kurang dapet kalo kata saya. Mungkin karena saya sudah cukup puas dengan penggambaran karakter-karakter “Cheese in the Trap” di serial-nya kali ya. Menurut saya pemilihan pemain dalam serial “Cheese in theTrap” itu sudah pas banget. Dari mulai Yoo Jung sunbae, Hong Seol sampai dengan karakter-karakter “sampingan” seperti Oh Young Gon dan Son Min Soo. Semua aktris dan aktor berhasil menyuguhkan vibe anak kuliahan dan membuat saya sebagai penonton ikut merasakan lika liku kehidupan kuliah. Sedangkan dalam trailer ini saya tidak bisa merasakannya. Menurut saya pemilihan pemainnya kurang tepat, kecuali Park Hae Jin sebagai Yoo Jung yang memang sudah pas banget.

Tapi sekali lagi, ini kan cuma trailer ya, kali aja setelah menonton filmnya saya justru akan berubah pikiran, secara yang main di film ini kan aktor dan aktris yang kemampuan acting-nya sudah tidak diragukan lagi.

Film ini sendiri akan mulai tayang di bioskop Korea pada tanggal 14 Maret mendatang. Semoga saja tayang di bioskop Indonesia juga.

Monday, February 19, 2018

[MUSIC & LYRICS] OKDAL’s A Strange Era

Anyeong! Can you believe that it’s Monday already and it’s almost the end of February. Days go by really fast, whether you love every minutes of it or not. It is still a mystery to me how we only have 24 hours in a day.

Anyway, I’m currently having a huge crush on one of OKDAL’s pieces. It’s called “A Strange Era.” I find the lyrics of this song really helping and comforting me when I’m in the middle of mental breakdown.

Hopefully this post will also help whoever out there who are in dire need of getting encouragement and a “virtual” pat on the shoulder.



A Strange Era

A friend I met yesterday said this…
If you shut your eyes, ears and mouth,
You’ll be happy
You’re a small, tiny piece of a cog
You’re really nothing
There’s no time to even be conquered by love
We’re living hard in a strange era

With the last 190 dollars in my bank account
Where should I go?

Don’t cry, that will change nothing
Don’t cry, just live like a shadow
Stay still, be quiet and don’t stand out
Then you’ll be happier than you are right now

Seeing the letters that won’t change
You imagined writing it anew again
There’s no time to even be conquered by love
We’re living hard in a strange era

With the last 190 dollars in my bank account
Where should I go?

Don’t cry, you can’t change it
Don’t cry because you were doing nothing
If you shut your eyes, ears and mouth
They say that you’ll be happier

If we have to walk in the center of this world alone
Then opening our eyes, listening and speaking up
Will make things better
Then we live our lives slowly